Sampah informasi. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengutarakan tentang hal ini. Namun rasa malas yang tak kuasa ku pendam telah menahan keinginanku untuk menulis. Mungkin karena cuaca, atau mungkin karena aku yang sedang berpuasa dan tak sanggup menahan godaan tempat tidur yang sebenarnya tidak begitu nyaman namun menjadi salah satu tempat yang paling menggiurkan.

Sampah-sampah informasi.

Aku tidak bermaksud untuk berkata bahwa informasi itu tidak berguna layaknya sampah. Namun dari sejauh yang kulihat, ada banyak informasi dari mulai hal yang penting sampai hal-hal tidak penting betebaran di jagat dunia maya.

Sebenarnya, banyak artikel yang memang informatif dan memberikan nilai edukasi kepada pembacanya. Namun ada juga artikel yang entah datangnya darimana, siapa penulisnya, namun tetap ada di internet dan bahkan ada ribuan orang yang membagikannya.

Ambil saja contoh artikel ini : Ternyata, Mendengarkan Omelan Istri Itu Baik Untuk Kesehatan Suami. Blog yang menyajikan artikel itu memiliki nilai kredibilitas nol dimataku, namun artikel serupa seringkali nongol di beranda facebook-ku dan telah dibagikan oleh orang-orang yang entah berapalama telah menghabiskan waktunya di internet.

Artikel sejenis ini banyak bermunculan dengan gaya tulisan yang serupa dengan berbagai macam topik. Entah itu ‘hasil penelitian’ , ‘tips dan trik’ atau apapun itu yang sekiranya dapat membuat seseorang berpikiran sama akan suatu topik.

Yang jadi persoalan.

Sampah. Artikel ini menjadi sampah infomasi yang menurutku sangat-sangat mengganggu. Informasi yang tadinya ditulis oleh sumber yang kredibel kemudian diambil begitu saja oleh berbagai pihak, bukan bertujuan untuk berbagi informasi yang memang berguna namun hanya untuk keuntungan profit semata.

Tunggu, profit? Ya. Itu benar. Artikel sampah semacam ini , seringkali tidak hanya muncul di satu situs / blog saja namun bisa jadi 1 artikel serupa terdapat pada 10 situs berbeda. Entah itu disadur, ditulis kembali, atau malah duplikasi hingga titik koma tak ada yang berubah.

Tak percaya? coba saja klik link ini. Anda akan kedapatan apa yang baru saja aku maksud barusan.

Motivasinya, uang.

Kebanyakan artikel sampah itu ditulis dengan format ala-kadarnya asal bisa ‘terbaca’ oleh pengguna jagat maya. Kalau kamu (atau Anda, aku masih bingung menyebut pembaca ini dengan sebutan apa) tidak memiliki ekstensi anti iklan , maka sudah pasti akan ada banyak iklan yang bermunculan meskipun konten yang disajikan merupakan konten sampah.

Setiap artikel sampah yang dikunjungi, si pemilik situs akan mendapatkan komisi. Untuk lebih rincinya, bisa kita bicarakan nanti. Namun inilah yang menjadi motivasi utama kebanyakan orang untuk memulai karir sebagai seorang ‘penulis online’ atau biasa disebut ‘blogger’.

Ada beberapa memang menulis dengan baik dan benar sesuai dengan gaya tulisan masing-masing, ada juga yang benar-benar asal tidak peduli dengan kaidah bahasa dan hanya mengedepankan ‘klik’.

Dari uang receh sampai jutaan rupiah, bisa kita dapatkan dengan membuat sampah-sampah di internet. Itu fakta. Pada akhirnya, banyak bermunculan informasi yang didaur ulang. Beberapa menjadi lebih baik dengan tambahan informasi maupun klarifikasi. Sisanya, cari tahu sendiri.

Lantas apa yang harus dilakukan?

Sebagai pembaca, sebaiknya kita mulai mengkonsumsi informasi dengan lebih selektif. Jangan biarkan sampah informasi terus menerus bertebaran dimana-mana hanya karena ketidaktahuan kita. Kita harus bisa menyaring informasi dari sumber-sumber yang memang kredibel. Jangan asal membagikan isi suatu artikel hanya karena kita setuju dengan isinya tanpa memikirkan asal-usul dari tulisan tersebut.

Perhatikan juga rasio antara iklan yang tampil dengan informasi yang didapatkan dari suatu situs website. Jika artikel yang dibaca memang dirasa berguna, coba telusuri dulu siapa penulis sebenarnya. Kalau sudah terlihat indikasi bahwa situs yang dikunjungi merupakan situs yang hanya berfokus pada iklan-iklan, maka sebaiknya ditinggalkan saja.

Biasanya situs-situs yang mengandung sampah informasi itu memiliki nama ‘Viral Terbaru’ , ‘Tips Dokter Keluarga’ , ‘Fakta Populer’ , kemudian dengan alamat situs website yang bukan alamat premium dengan akhiran .com .net dsb , melainkan situs-situs gratisan seperti blogspot.com . Ketika ditelusuri lebih lanjut, artikel yang ada pada situs-situs tersebut biasanya merupakan duplikasi konten dari sumber lain.

Ada baiknya kita mulai mengacu pada salah satu website terkenal untuk melahap informasi. Setidaknya, apa yang mereka sampaikan jelas siapa penulisnya dan juga bisa dipertanggungjawabkan.

Posted by:Dzikri Aditya Darmawan

Just a regular person who lost on the internet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *