Ada banyak motivasi dibalik tulisan seseorang. Dan pada kasusku, mungkin tak sekuat motivasi para penulis hebat. Namun ketika ditanya apa motivasi yang mendasariku untuk menulis, aku sendiri tak bisa memberi jawaban pasti.

Mari lakukan sedikit flashback. Sejauh pikiranku melayang, sepertinya kebanyakan hal yang aku lakukan dalam hidup itu bukanlah sesuatu yang unik. Kebanyakan hal yang aku lakukan itu datang dari orang lain. I wanna be like him. I wanna have that too. I wanna make that too.

Mungkin ada mindset yang tertanam yang menyatakan bahwa kalau aku bisa buat yang seperti itu, mungkin aku akan sukses seperti dia juga. Ibaratnya jika aku punya website seperti Facebook, mungkin aku akan sukses juga seperti Mark Zuckerberg.

Faktanya, sejak kecil aku punya pikiran ketika aku terkagum akan suatu hal, aku akan mencoba untuk membuat hal yang sama dengan versiku sendiri. Setelah dipikir-pikir, aku mengenal istilah warnet pun datang dari kakakku.

Entah apa yang dia lakukan di warnet kala itu, namun seingatku aku hanya menghabiskan waktu disana untuk bermain games. Dan jangan salah, bukan games seperti Point Blank, Ragnarok, atau bahkan World of Warcraft yang saat itu aku mainkan. Melainkan games-games kecil dari Gamehouse ataupun flash games dari games.co.id

Namun dari sana, dimulailah kesukaanku terhadap sesuatu yang dinamakan blog. As long as i can remember, pertamakali aku membuat blog itu disaat aku kelas 4 SD. Atau mungkin kelas 5 SD. Yang jelas, motivasi utamanya bukan karena aku ingin menulis pada sebuah blog, tapi aku ingin punya sebuah blog.

Pada saat itu, memiliki sebuah blog bukanlah suatu hal yang umum, berbeda dengan sekarang. Dan karena aku memang masih bocah kala itu, menulis bukanlah hal yang aku kuasai. Aku lebih fokus pada bagaimana mempercantik tampilan blog-ku ketimbang mengisinya dengan konten yang memang bermanfaat.

Semua dapat terlihat hingga saat ini, dimana aku tidak konsisten dan seringkali kebingungan mencari materi kehidupan yang bisa aku tulis. Mungkin karena hidupku tidak ada yang menarik, menjadikan aku juga tak memiliki banyak inspirasi atau buah pikir yang bisa aku tuangkan.

Itu dulu, bagaimana dengan sekarang?

Entahlah. Pikiran idealisku mengatakan mungkin suatu saat nanti aku bisa menceritakan hebatnya hidupku dan menginspirasi banyak orang. Namun pada kenyataannya, hidupku biasa-biasa saja dan cenderung tidak ada yang bisa dibanggakan. Malah mungkin ketika orang tau bagaimana kehidupanku, mereka akan memilih untuk tidak hidup daripada hidup sepertiku, haha.

Tidak dapat dipungkiri, aku juga butuh atensi. Apresiasi, atau bahkan caci maki. Entah tertuju untuk siapa tulisan-tulisan yang aku buat. Jangankan untuk dibaca khalayak ramai, mungkin aku sendiri enggan membacanya.

Tapi ya sudahlah, setidaknya aku punya tempat untuk berkeluh kesah, dan mungkin suatu saat nanti akan ada yang benar-benar peduli dengan kehidupanku yang penuh dengan kekosongan ini.

Tidak ada kata bijak untuk hari ini. Have a wonderful life!

Sad Cloud, Q4 2019

PS.
Ah, for the records. Tulisan ini (Kesempatan Kedua) yang membuatku menulis kalimat tak berarti yang baru saja kalian baca. Memang tidak ada kaitannya sama sekali dengan apa yang aku tuliskan, but shoutout to her! Mungkin aku akan membuat satu tulisan berkaitan dengan itu setelah ini. Stay tune!

Posted by:Dzikri Aditya Darmawan

Just a regular person who lost on the internet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *