Kegiatan unfaedah yang kulakukan (scrolling twitter endlessly) terhenti ketika salah satu temanku membuat tulisan dengan tema ‘kesempatan kedua’. Seketika dadaku berdegup lambat.

Untuk memberikan sedikit konteks terhadap apa yang akan aku sampaikan setelah ini, sebaiknya kalian baca terlebih dahulu apa yang temanku tulis dengan mengklik link ini.

Sejujurnya, aku adalah salah satu orang yang menentang mindset ” Orang bilang, kembali menjalin hubungan dengan mantan itu seperti membaca buku dua kali: akan tetap berakhir dengan cerita yang sama. ” . Dan ini alasanku.

Yes, people make mistakes. I do, and maybe even you too. Some of them forgivable, some of them take years to get forgiven. Aku mengerti akan hal itu. Aku pun mengerti bahwa kita sebisa mungkin menghindari kesalahan maupun luka yang sama dari sebuah hubungan.

But here’s the thing. People change. Sometimes, they can be better. Aku bukan tipe orang pendendam. Aku selalu membuka pintu lebar bahkan untuk orang yang telah menyakitiku sekalipun. Aku akan berikan seribu kesempatan untuk siapapun itu ketika mereka punya tekad untuk berubah jadi lebih baik.

Kita ini bukan tuhan yang tahu jalan cerita kehidupan. Kita bukan hakim yang bisa menilai baik Namun kita bisa menilai, seberapa keras tekad seseorang untuk merubah dirinya menjadi orang yang lebih baik lagi.

‘Tapi wan, ini kan soal perasaan’.

Ya, aku mengerti betul soal itu. Tapi bukan berarti kita harus bersikap kasar terhadap orang lain, kan? Kita harus bisa tetap bersikap terbuka dan tidak menutup kemungkinan-kemungkinan.

Ketika ada orang dari masa lalu yang kita anggap sebagai pendosa kembali mengetuk pintu hati, setidaknya kita mempersilahkannya untuk duduk. Coba dengarkan dan coba lihat siapa dirinya sekarang, dan kita bisa menilai dari situ sejauh mana dia berubah.

Kalaupun memang tak ada intensi untuk kembali merajut hubungan, bicarakan lah secara baik-baik. Setidaknya kita tahu, bahwa dia kini merupakan orang yang sudah berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan setidaknya kita juga menunjukkan bahwa kita ini orang yang lebih baik pula dari sebelumnya.

Bagaimana kalau ternyata dia masih sama saja jeleknya seperti dulu? Kalau memang itu adanya, kita yang tunjukkan kalau kita sudah banyak berubah dan kita bisa lebih bersikap dewasa.

Kita ingatkan dia atas apa yang telah dia perbuat dan biarkan dia menunjukkan tekadnya untuk menjadi orang yang lebih baik. Bukan untuk kita, tapi untuk dirinya sendiri. Jangan libatkan rasa, karena bukan itu tujuannya.

Ketika rasa tak bisa dipaksa, maka jangan tutup pintu itu dengan kerasnya. Tutuplah dengan perlahan, sambil ucapkan salam dan doakan yang terbaik untuknya.

Dan seandainya aku ditanya dengan pertanyaan ‘Apa yang akan kau lakukan bila aku berikan kesempatan kedua?’, ini jawabanku.

Aku ‘kan tunjukkan siapa diriku sekarang, uruslah hatimu karena aku tak akan mencampurinya, biarkan waktu yang menunjukkan dan jadikanlah hatimu sebagai jurinya.

Posted by:Dzikri Aditya Darmawan

Just a regular person who lost on the internet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *